Obligasi negara ritel adalah cara meminjamkan uang ke negara, lalu dibayar bunga tiap bulan. Hasilnya biasanya di atas deposito, dan pokoknya dijamin undang-undang. Yang perlu dipahami: tidak semua serinya bisa dicairkan kapan saja.
Ringkasnya
- Ada empat jenis untuk perorangan: ORI, SR, SBR, dan ST. Pembelian mulai Rp1 juta.
- Pokok dan kuponnya dijamin dibayar negara sesuai undang-undang.
- Kupon dipotong pajak 10%, lebih kecil dari pajak bunga deposito.
- Hanya dijual di masa penawaran tertentu, lewat mitra distribusi resmi yang ditunjuk Kementerian Keuangan.
Apa itu obligasi negara ritel
Obligasi adalah surat utang. Saat kamu membeli obligasi negara, kamu meminjamkan uang ke pemerintah. Sebagai gantinya, pemerintah membayar imbalan rutin yang disebut kupon, lalu mengembalikan pokoknya saat jatuh tempo. Versi syariahnya disebut sukuk, dengan imbalan yang disebut imbal hasil.
Empat jenis yang bisa dibeli perorangan (fakta):
- ORI (Obligasi Negara Ritel): kupon tetap, bisa dijual ke orang lain sebelum jatuh tempo.
- SR (Sukuk Ritel): versi syariah dari ORI, imbalan tetap, bisa dijual.
- SBR (Savings Bond Ritel): kupon mengambang tapi punya batas bawah, tidak bisa dijual, sebagian bisa dicairkan lebih awal di waktu tertentu.
- ST (Sukuk Tabungan): versi syariah dari SBR.
Cara uangnya bertambah
Dari kupon yang dibayar setiap bulan ke rekeningmu. Contoh dengan seri yang sedang ditawarkan saat artikel ini ditulis, SBR015 (masa penawaran 28 September–22 Oktober 2026) (simulasi):
| Uang ditaruh di SBR015T2 (tenor 2 tahun) | Rp5.000.000 |
| Kupon 6,75% setahun | Rp337.500 |
| Pajak 10% | −Rp33.750 |
| Kupon bersih setahun | Rp303.750 |
| Rata-rata per bulan | ± Rp25.300 |
Karena kupon SBR mengambang dengan batas bawah, kuponnya bisa naik kalau suku bunga acuan naik, tapi tidak akan turun di bawah 6,75%. Sebagai pembanding, ORI030 yang ditawarkan Juli 2026 memberi kupon tetap 6,90% (tenor 3 tahun) dan 7,00% (tenor 6 tahun).
Hasil sebenarnya selama ini
Kami menyimulasikan Rp5 juta di ORI selama 1 tahun, dimulai di setiap bulan sejak Januari 2018, total 93 skenario (simulasi, estimasi). Nilai tengahnya sekitar Rp22.700 per bulan, hampir dua kali deposito. Tidak ada skenario yang rugi.
Asumsinya: kupon mengikuti seri ORI yang terbit di tahun mulai, dipotong pajak 10%, dan obligasinya dijual kembali di harga nominal. Kenyataannya, harga jual ORI sebelum jatuh tempo bisa lebih tinggi atau lebih rendah. Bagian berikut menjelaskan kenapa.
Kerugian terburuk yang bisa terjadi
- Menjual ORI atau SR sebelum jatuh tempo saat harganya turun. Kalau suku bunga naik setelah kamu membeli, orang lebih suka seri baru yang kuponnya lebih tinggi, jadi harga seri lamamu bisa di bawah nominal. Kalau dipegang sampai jatuh tempo, pokoknya kembali penuh.
- Butuh uang mendadak saat memegang SBR atau ST. Seri ini tidak bisa dijual. Pencairan lebih awal hanya dibuka pada periode tertentu dan maksimal sebagian (umumnya 50%) dari kepemilikan.
- Membeli di tempat yang tidak resmi. Obligasi “negara” yang dijual di luar mitra distribusi resmi tidak punya jaminan apa pun.
Risiko gagal bayar oleh negara sangat kecil karena pembayaran pokok dan kupon dijamin undang-undang dan dianggarkan setiap tahun dalam APBN.
Biaya dan pajak
- Kupon dikenai pajak penghasilan final 10% (fakta), dipotong otomatis.
- Membeli di masa penawaran umumnya tanpa biaya. Menjual ORI/SR di pasar sekunder bisa dikenai biaya transaksi dari mitra distribusi, dan keuntungan dari selisih harga jual juga dikenai pajak.
- Batas pembelian berbeda tiap seri. Contoh ORI030: minimal Rp1 juta, maksimal Rp5 miliar (tenor 3 tahun) dan Rp10 miliar (tenor 6 tahun).
Siapa pengawasnya dan cara cek legalitas
- Diterbitkan oleh Kementerian Keuangan (Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko). Pembayarannya dijamin UU No. 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara dan UU No. 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara.
- Beli hanya lewat mitra distribusi yang ditunjuk Kementerian Keuangan: bank, perusahaan efek, dan perusahaan teknologi finansial tertentu. Daftarnya ada di situs Kemenkeu.
- Jadwal dan kupon resmi setiap seri diumumkan di kemenkeu.go.id.
Ciri-ciri penipuan
- Ditawari “obligasi negara” atau “SBN” dengan kupon jauh di atas seri resmi yang sedang ditawarkan.
- Dijual di luar masa penawaran resmi, atau lewat grup chat dan perorangan.
- Diminta transfer ke rekening pribadi, bukan melalui aplikasi atau kantor mitra distribusi resmi.
Kalau ragu, cocokkan nama seri, kupon, dan jadwalnya dengan pengumuman resmi Kementerian Keuangan, atau hubungi Kontak OJK 157.
Cocok untuk siapa
- Uang yang tidak akan dipakai selama 2–6 tahun, sesuai tenor seri yang dipilih.
- Orang yang ingin pemasukan rutin bulanan yang lebih besar dari deposito, dengan risiko yang tetap rendah.
- Kalau kemungkinan butuh uang mendadak, pilih ORI atau SR yang bisa dijual. Kalau pasti tidak disentuh, SBR atau ST melindungimu dari penurunan harga.
Sumber
- Kementerian Keuangan, informasi SBN ritel dan mitra distribusi, kemenkeu.go.id (dicek 30 September 2026).
- SBR015: kupon 6,75% (tenor 2 tahun) dan 6,85% (tenor 4 tahun), masa penawaran 28 September–22 Oktober 2026 (Bareksa, 22 September 2026).
- ORI030: kupon tetap 6,90% (3 tahun) dan 7,00% (6 tahun), batas pembelian dan pajak 10% (Bareksa, 7 Juli 2026).
- PPh final 10% atas bunga dan diskonto obligasi: PP 91/2021.
- Simulasi Timbang: 93 skenario Rp5 juta selama 1 tahun, Jan 2018–Sep 2026. Metode di Kebijakan Redaksi.